Senin, 16 April 2012

Pentingnya Dzikrullah


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
Dari Aisyah dia berkata, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir kepada Allah dalam semua keadaannya.” (HR. Muslim).
———————————–
Istilah dzikrullah (berdzikir kepada Allah) memiliki dua makna, yang kedua-duanya diperintahkan untuk kita penuhi, yaitu: dzikrullah dengan arti: mengingat Allah, dan yang kedua: dzikrullah dengan makna: menyebut Allah melalui Nama-Nama dan Shifat-Shifat-Nya, serta bukti-bukti keagungan dan kemuliaan-Nya. Dzikrullah dengan arti dan makna pertama bisa semakna dengan muraqabatullah (mengingat dan memperhatikan pengawasan Allah), sebagaimana dalam hadits Jibril ’alaihis-salam:
Dia (Jibril as.) bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu apa?’ Beliau (Rasulullah SAW.) pun menjawab: “Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka (ketahuilah) sesungguhnya Dia melihatmu” (HR. Muslim dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu)
Namun arti yang lebih umum digunakan adalah arti kedua, yakni menyebut Nama-Nama Allah melalui tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan lain-lain, yang di dalamnya juga terkandung makna mengingat Allah.
Lalu mengapa dzikrullah itu penting? Berikut ini beberapa alasannya:
  1. Banyaknya perintah dan contoh teladan agar kita senantiasa berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya dalam segala kondisi dan situasi, dengan kedua arti dan esensi dzikir diatas.
 “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang” (QS. Al-Ahzab: 41-42).
 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal; (yaitu) orang-orang yang mengingat (berdzikir) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali ‘Imran: 190-191).
  1. Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim mengibaratkan dzikrullah bagi seorang mukmin seperti nafas bagi makhluk hidup atau seperti air bagi ikan. Maka orang mukmin yang tidak berdzikir seperti seseorang yang tidak bisa bernafas atau seperti ikan yang dijauhkan dari air, apa jadinya? Karena hidup hakiki dalam konsep Islam adalah ketika seseorang itu senantiasa sambung dan berhubungan dengan Allah melalui dzikir yang banyak dan benar.
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Permisalan orang yang berdzikir mengingat Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir mengingat Rabb-nya seperti (perbandingan) orang yang hidup dengan yang mati.” (HR. Al-Bukhari).
 (‘Abdullah bin Dhamrah) berkata: aku telah mendengar Abu Hurairah berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya dunia itu terlaknat (terjauhkan dari kebaikan dan rahmat Allah) dan segala isinya pun juga terlaknat, kecuali (yang diisi) dzikir kepada Allah dan apa yang berkaitan dengannya, dan orang yang alim atau orang yang belajar.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Darimi).
  1. Dzikrullah adalah landasan, motivasi, isi, esensi dan sekaligus tujuan seluruh ibadah. Maka tingkat, kualitas dan juga kwantitas ibadah seseorang sangat ditentukan oleh tingkat, kualitas dan juga kuantitas dzikir dan ingatnya kepada Allah. Lalu shalat seluruhnya adalah dzikir. Puasa Ramadhan dan ibadah haji juga penuh dengan dzikir. Sementara tidak mungkin seseorang bisa menjaga komitmennya dalam menunaikan kewajiban ibadah zakat dan juga seluruh ibadah yang lainnya kecuali jika ia senantiasa ingat Allah dengan baik. Disaat yang sama, seluruh ibadah itu juga merupakan sarana terbaik untuk menggapai tingkat dzikrullah yang lebih tinggi dan lebih baik.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku. Maka beribadahlah kepada-Ku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat (dzikir kepada) Aku” (QS. Thaha: 14)
  1. Salah satu keistimewaan ibadah dzikrullah adalah bahwa, ia merupakan ibadah yang paling mungkin dilaksanakan di segala situasi, kondisi, tempat, waktu, kedaan dan lain-lain, dengan hampir tanpa penghalang atau kendala kecuali dari dalam diri sendiri. Maka maklum jika perintah dan contohnya adalah dzikir sebanyak-banyaknya di segala keadaan. Dan oleh karenanya pula, ibadah dzikrullah juga bisa berfungsi sebagai penutup kekurangan dan pengganti (dari aspek pahala, dan bukan secara hukum) bagi ibadah-ibadah lain yang terlewatkan penunaiannya.
Dari Abdullah Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at-syari’at Islam telah (terasa) banyak bagiku (sehingga aku takut tidak bisa memenuhinya), maka beritahukan kepadaku sesuatu (amalan) yang dapat aku jadikan sebagai pegangan (yang bisa menutup kekurangan-kekuranganku)! Beliau bersabda: “Hendaknya senantiasa lidahmu basah karena berdzikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).
  1. Dzikir tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan lain-lain bernilai pahala sedekah yang sangat tinggi.
Dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah menguasai dan mendominasi seluruh pahala. Mereka shalat seperti kami shalat dan puasa seperti kami puasa, namun (selain itu) mereka bisa bersedekah dengan sisa harta mereka (sementara kami tidak bisa)” Maka beliau pun bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara bagi kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, bahkan pada aktivitas hubungan suami istri seorang dari kalian pun terdapat nilai sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang diantara kami menyalurkan nafsu syahwatnya, apakah akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab: “Bagaimana sekiranya ia melampiaskannya secara haram, bukankah berdosa? Begitupun sebaliknya, bila ia melampiaskannya secara halal, maka tentu iapun akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).
Dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap pagi dari setiap persendian masing-masing kalian harus ada sedekahnya. Dan setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah,  setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap amar ma’ruf adalah sedekah, setiap nahi mungkar adalah sedekah, dan semua itu bisa tercukupi dengan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim).
  1. Dengan dzikrullah secara benar, baik dan konsisten, hati kita akan selalu tenang, tenteram, damai dan stabil. Dan itu merupakan landasan dan modal utama untuk menggapai hidup bahagia dan sejahtera secara hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan berdzikir mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).
  1. Tinggi dan istimewanya nilai dzikrullah serta besar dan berlipat-gandanya balasan dan pahalanya.
“Dan sesungguhnya  dzikir mengingat Allah (dalam shalat dan lainnya) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-’Ankabut: 45).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat/menyebut-Ku. Jika ia mengingat/menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingat/menyebutnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat/menyebut-Ku dalam suatu perkumpulan, maka Aku mengingat/menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka (perkumpulan malaikat). (HR. Muttafaq ‘alaih).
Dari Abu Hurairah dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Sesungguhnya membaca dzikir: Subhaanallah, al-hamdu lillah, laa ilaaha illallah, dan Allahu akbar, adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena oleh sinar matahari.(bumi seisinya)” (HR. Muslim).
  1. Inti, dasar dan landasan dzikir adalah dzikir hati. Jika hati telah berdzikir (syaratnya dengan benar), maka seluruh anggota yang lainpun akan berdzikir: lisan (mulut), mata, telinga, tangan, kaki, pikiran, dan seterusnya. Dan yang dimaksud dzikir hati adalah dzikir dengan arti mengingat (muraqabah) Allah. Sedangkan dzikir dengan arti menyebut Asma’ dan Shifat Allah, maka kaidah, tuntunan dan sempurnanya adalah dengan pengucapan lesan, tentu juga harus berlandaskan dzikir hati. Tapi yang jelas dzikrullah dengan arti menyebut Nama Allah sebagai sebuah amal ibadah khusus dengan segala keutamaan dan keistimewaannya, tidaklah cukup dilakukan dengan hati saja (dengan kata lain di-batin saja), tapi harus dengan pengucapan lisan. Kecuali sebagai sebuah pengecualian dalam kondisi-kondisi khusus saja.  Maka sangat tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa puncak dzikrullah (dengan arti menyebut Nama Allah), adalah ketika yang “menyebut” itu hanya tinggal hati saja, seiring dan sebanyak tarikan nafas dan detakan jantung. Serta ketika sudah tidak ada lagi keterlibatan pengucapan lisan (?!). Pendapat ini sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena justru kebalikan dan bertentangan dengan petuntuk Al-Qur’an dan tuntunan serta contoh sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dimana kaidahnya justru dzikir yang sempurna itu adalah yang menggabungkan dzikir (ingatan dan kesadaran) hati dan dzikir (penyebutan dan pengucapan) lisan!
 (‘Amir) berkata; aku mendengar An-Nu’man bin Basyir berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas….. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah seluruh (bagian) tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusak pulalah seluruh (bagian) tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati(HR. Muttafaq ‘alaih).
Dari Abdullah Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah,….. maka beliau bersabda, “Hendaknya senantiasa lidahmu basah karena berdzikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar