Senin, 16 April 2012

Hadits Tentang Dzikir Bag. 7



Hadits 13
Dari Anas r.a berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu melawat kebun-kebun surga, maka nikmatilah kemewahannya.” Seseorang bertanya, “Apakah kebun surga itu ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah saw, “majlis dzikrullah.” (Hr.Ahmad dan Tirmidzi)
Penjelasan
Siapa saja  yang menghadiri majelis dzikir, maka ia akan memperoleh keuntungan. Majelis dzikir itu sangat di hargai, sehingga di dunia saja dikatakan sebagai taman surga. Nikmatilah kemewahannya, disyaratkan seperti seekor hewan yang sedang memakan rumput hijau di sebuah taman. Jika dihalau sedikit saja ia tidak akan pergi, bahkan walaupun dihalau oleh tongkat pemiliknya, ia tetap memakannya dan mulutnya tidak akan melepaskan rumput-rumput itu. Demikian pula orang yang berdzikir, mereka tidak akan terganggu dengan pikiran-pikiran keduniaan ataupun yang lainnya, ia akan tetap bertawajuh kepada dzikirnya.
Di dalam hadits lain di atas juga disebutkan bahwa majelis-majelis dzikir itu seumpama taman-taman surga yang didalamnya tidak akan ditemukan perasaan gelisah, dukacita, atau suatu halangan yang dapat mengganggu ketentraman.
Dalam hadits lain disebutkan bahwa dzikrullah juga merupakan penyembuh dari penyakit-penyakit hati seperti takabur, hasad, dengki, iri hati, buruk sangka, dan sebagainya. Oleh karena itu, majelis dzikir dapat dijadikan obat bagi segala penyakit hati. Seorang ulama menulis di dalam kitabnya fawaid fis sholat wal awaid, “Barangsiapa yang berdzikir, niscaya ia akan terpelihara dari segala bala bencana .”
Diriwayatkan dalam sebuah hadits sahih bahwa Rasulullah saw bersabda, “Aku telah memerintahkan kepada kamu untuk memperbanyak dzikir. Perbandingan orang yang berdzikir itu adalah seperti seorang yang dikejar oleh musuhnya lalu ia lari dan berhasil melindungi dirinya dalam benteng yang kuat. Orang yang berdzikir adalah peserta majelis Allah swt. Tidak ada faedah sebesar ini, yaitu seseorang yang berdzikir menjadi peserta Malikul Mulk (Pemilik segala kerajaan).”
Selain itu, dengan dzikrullah dada seseorang akan terbuka, hatinya akan bersinar, kekusutan hatinya akan lenyap dan ada beratus-ratus faedah lainnya baik lahir maupun batin yang telah diterangkan oleh para ulama.
Seseorang telah mengunjungi Abu Ummah r.a lalu berkata kepada beliau, “Aku melihat dalam mimpi setiap kali tuan masuk atau keluar atau berdiri atau duduk, para malaikat berdoa untuk tuan.” Abu Umamah r.a berkata, “Jika kamu menghendaki, mereka juga dapat berdoa untukmu.”
Lalu Abu Umamah r.a membaca ayat al Quran berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.” (Qs.al Ahzab ayat 41-43)
Ayat di atas menunjukan bahwa rahmat Allah swt dan doa para malaikat tergantung kepada dzikrullah yang kita kerjakan. Semakin banyak kita mengingat Allah, maka sebanyak itu pula kita akan diingat oleh Allah.
Hadits 14
Dari Abdullah bin Abbas r.a berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang dari kamu tidak mampu untuk beramal di malam hari,tidak dapat membelanjakan hartanya di jalan Allah karena bakhil, dan tidak dapat berjuang di jalan Allah karena penakut, maka hendaklah ia memperbanyak dzikir kepada Allah.” (Hr.Thabrani, Baihaqi, dan al Bazar)
Penjelasan
Segala macam kekurangan dari ibadah nafil, dapat disempurnakan oleh dzikir. Anas r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dzikrullah adalah tanda keimanan, pelepas dari sifat nifaq, benteng dari godaan syetan, dan pelindung dari api neraka Jahanam.”
Melihat berbagai faedah di atas, maka dzikrullah dapat dianggap sebagai ibadah yang paling afdhal., terutama karena ia dapat memelihara manusia dari godaan syetan.
Di dalam sebuah hadits diterangkan bahwa syetan senantiasa mendominasi hati manusia. Apabila manusia berdzikir, maka syetan mundur dengan perasaan hina dan  tidak berdaya, sebaliknya jika manusia lalai dari berdzikir, maka syetan datang untuk menggodanya kembali. Ia menanamkan dalam hati manusia berbagai keraguan. Karena itulah para ulama tasauf menganjurkan dzikrullah sebanyak-banyaknya agar hati menjadi kuat, sehingga dapat mengatasi segala keraguan dan godaan syetan, juga agar hati jangan sampai menjadi tumpuan syetan.
Para sahabat r.a telah mendapatkan kekuatan hati dengan mendampingi Rasulullah saw. Kekuatan hati mereka merupakan kekuatan yang luar biasa, karenanya mereka tidak perlu lagi mengamalkan dzikir jihri (dzikir dengan mengeraskan suara). Tetapi karena kita telah jatuh dari zaman Rasulullah saw maka hati kita ini menjadi lemah. Oleh karena itu kita memerlukan perawatan untuk mendapatkan kekuatan hati. Karena lemahnya hati ini, perawatan yang mujarab apapun tidak dapat melahirkan kekuatan hati seperti yang didapatkan para sahabat r.a namun bagaimanapun usaha kita untuk mendapatkannya tetap akan memberikan faedah.
Walaupun penyakit hati itu tidak dapat dibasmi seluruhnya, tetapi jika dapat membatasi atau membasmi sebagian saja sudah merupakan rahmat yang sangat besar.
Suatu ketika seorang ahlullah pernah berdoa kepada Allah swt agar diperhatikan kepadanya celah-celah yang digunakan oleh syetan untuk menanamkan perasaan was-was di dalam hati manusia. Permohonannya itu di perkenalkan dan ia melihat syetan berupa seekor nyamuk yang berbelalai panjang sedang berada di sebelah kiri hatinya dan perlahan-lahan belalainya di arahkan ke hatinya. Jika didapati hati itu sedang berzikir, maka cepat-cepat di tarik belalainya, sebaliknya jika ia mendapati hati itu sedang lalai maka ia menyuntikkan racun maksiat dan menanamkan benih keraguan dalam hati manusia dengan belalainya itu.
Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa syetan senantiasa duduk sambil meletakkan ujung hidungnya diatas hati manusia. Jika hati itu berdzikir maka ia terus mundur dengan perasaan hina, tetapi jika hati itu lalai maka ia terus menyerang dan menggodanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar