Senin, 16 April 2012

Hadits Tentang Dzikir Bag. 2


Hadis ke-3
Dari Abu Darda r.a berkata, Rasulullah saw bersabda, “Maukah saya kabarkan kepada kalian suatu amal yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhanmu, yang paling meninggikan derajat kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada menafkahan emas dan perak (dijalan Allah ), serta lebih baik daripada berjuang melawan musuh, lalu kalian membunuh musuhmu atau musuhmu yang akan membunuh kalian?” Ya!” Jawab para sahabat tegas. Beliau bersabda, “Dzikrullah.” (Hr.Ahmad, Tirmidzi, dan ibnu Majah )
Riwayat lain menyebutkan, “Dari Abu Sa'id r.a behawa Rasulullah saw ditanya, “ Siapakah hamba yang paling utama derajatnya di sisi Allah saw pada hari kiamat?” Beliau menjawab, “Orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah.” Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah lebih utama dari pada berjuang di jalan Allah?” Nabi saw. bersabda, “Walaupun ia memenggal leher orang-orang kafir atau orang musyrik dengan pedangnya sehingga ia terbunuh ataupun berlumuran darah, tetaplah orang yang berzdikir lebih utama dari padanya satu derajat.”
Penjelasan:
Keutamaan dzikrullah ini berdasarkan keadaan umum, karena kadang-kadang dalam situasi dan keadaan tertentu, maka jihad, sedekah, dan sebagainya dipandang lebih utama daripada amalan lain. Oleh karena itu, banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan amalan-amalan itu pada waktu-waktu tertentu, tetapi dzikrullah dapat dilakukan pada setiap saat dan keadaan.
Adalah diceritakan dalam sebuah hadirs, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Segala sesuatu ada alat pembersihnya, dan untuk membersihkan hati adalah berdzikrullah.” Hadits ini menyebutkan bahwa dzikrullah adalah pembersih hati, maka dzikrullah lebih utama dari pada amalan yang lain. Dzikir dianggap sebagai pembersih hati yang kotor, karena semua ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas, sedangkan ikhlas bergantung kepada hati yang bersih.
Maka itulah, sebagian ahli tasawuf mengatakan, dzikir yang dimaksud dalam hadits ini adalah dzikir qalbi ( dzikir dengan hati ) bukan dzikir lisan (dzikir dengan lidah ). Yang dimaksud dengan dzikir Qalbi, hendaknya hati kita senantiasa bertawajuh kepada Allah. Dzikir seperti ini lebih baik daripada amalan-amalan lainnya. Jika seorang telah mencapai keadaan seperti ini, maka dia akan melakukan ibadah-ibadah lainnya, karena setiap anggota badannya akan mengikuti yang senantiasa dalam keadaan dzikir. Jika sudah asyik berdzikir, maka siapakah yang tidak akan mengetahuinya?
Masih banyak hadis lain yang menyatakan bahwa dzikir itu adalah amalan yang paling afdhal.
Seseorang bertanya kepada Salman Alfarisi r.a “Amalan manakah yang paling utama? Jawabannya, “Apakah engkau tidak membaca al Quran?” Disebutkan dalam al Quran :
“....dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya).” (Qs.al'Ankabut ayat 45)
Pengarang kitab Majalisul Abrar mengatakan, “Di dalam hadits ini dinyatakan bahwa dzikir itu lebih utama daripada sedekah, jihad dan ibadah lain, karena dzikrullah merupakan tujuan asasi, sedangkan ibadah lain hanyalah alat.
Dzikir dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Dzikir lisan; Kedua, dzikir qalbi. Dzikir qalbi yaitu dzikir yang disertai dengan muraqabah dan tafakkur lebih utama dari dzikir lisan. Muraqabah yaitu mengingat Allah dalam hati. Itulah yang dimaksudkan oleh hadits, “Berfikir sesaat itu lebih utama dari pada 70 tahun ibadah.” Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, bahwa Sahl r.a berkata, Nabi saw bersabda, “Dzikrullah berpahala 700.000 kali lebih utama daripada orang yang bersedekah di jalan Allah” Dengan demikian hadits-hadits yang menerangkan fadhilah dan keuntungan suatu amalan tidaklah menimbulkan pertentangan satu sama lain. Misalnya sebuah hadits yang menerangkan, berdiri sesaat di jalan Allah swt lebih utama daripada shalat yang dikerjakan dirumah selama 70 tahun berturut-turut, padahal kita tahu shalat adalah ibadah yang paling utama. Akan tetapi ketika orang-orang kafir menyerang umat islam, maka jihadlah yang dianggap ibadah paling utama. Dengan demikian keutamaan suatu amal tergantung kepada situasi dan kondisi.

Hadits ke-4
Dari Abu Said al khudri r.a sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Sungguh akan ada orang-orang di dunia ini yang berdzikir kepada Allah diatas kasur-kasur empuk, Allah akan memasukkan mereka ke derajat paling tinggi (didalam surga). “(Hr. Ibnu Hibban)
Penjelsan :
Kesabaran dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan di dunia dapat menyebabkan manusia mencapai derajat yang paling tinggi di alam akhirat. Sejauh mana seseorang mengalami penderitaan atau pengorbanan karena agama,setinggi itulah derajatnya akan dinaikan di dalam surga. Berbeda dengan dzikrullah yang pahalanya penuh dengan keberkahan, menyebabkan manusia mencapai derajat yang tinggi walaupun dikerjakan di atas kasur-kasur yang empuk.
Rasulullah saw pernah bersabda, “Jika kalian senantisa berdzikir kepada Allah setiap saat, niscaya para malaikat akan berjabat tangan dengan kalian ditempat tidur kalian atau di jalan-jalan. “Pada kesempatan lain, Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang mufarrid akan selalu meningkat dan maju.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Orang-orang mufarrid itu?” Beliau saw bersabda, “Orang-orang yang senantiasa sibuk dengan dzikrullah.”
Dengan memperhatikan hadits ini, para ulama tasawuf menulis, “Sebaiknya jangan menyakiti para sultan dan pegawai pemerintah yang selalu menjaga dzikrullah, karena mereka akan mendapat derajat yang tinggi.” Abu Darda r.a berkata, “Hendaklah kamu mengingat Allah ketika dalam keadaan gembira, niscaya Allah akan mengingat kamu ketika dalam kesusahan dan kesempitan.”
Salman al Farisi r,a berkata, “Apabila seseorang berdzikir kepada Allah dalam keadaan senang lapang, dan gembira, maka ketika susah, para malaikat berkata, “Suara hamba yang dha'if ini sangat menyenangkan kami (Maksudnya, mereka pernah mendengar ia memohon bantuan kepada Allah swt)” Namun berangsiapa tidak berdzikir kepada Allah dalam kesenangan, kemudian ia mengingat Allah ketika menderita kesusahan, maka para malaikat berkata, “Suara ini tidak patut dikasihani.” Ibnu Abbas r.a berkata, “Surga mempunyai delapan pintu, salah satu pintunya dukhususkan bagi orang yang selalu berdzikir.” Sebuah hadits menyebutkan, “Barangsiapa yang memperbanyak dzikir, niscaya ia akan terbebas dari sifat munafik.” Di dalam hadits lain dinyatakan, Allah swt mencintai orang-orang yang banyak berdzikir.
Suatu ketika Rasululah saw pulang dari suatu perjalanan, tiba-tiba Rasulullah saw berhenti sebentar di suatu tempat, lalu beliau bersabda, “Dimanakah orang-orang yang selalu maju?” para sahabat menjawab, “Mereka telah mendahului kami.” Rasulullah saw bersabda lagi, “Orang yang selalu maju ialah oranng yang selalu sibuk dengan dzikrullah . Barangsiapa manghendaki kepuasan surga, maka hendaklah memperbanyak dzikrullah.”

Hadits ke-5
Dari Abu Musa r.a berkata, Rasulullah saw bersabda , “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (Hr.Bukhari, Muslim, dan Baihaqi)
Penjelasan :
Setiap manusia mencintai kehidupan dan takut kepada kematian. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak mengingat Allah swt, walaupun ia hidup, maka keadaannya tidak berbeda dengan orang yang mati, kehidupannya adalah sia-sia.” Seorang pujangga berbangsa Persia berkata :
“Kehidupanku kini bukanlah kehidupan yang hakiki. Kehidupan yang hakiki adalah jika seseorang dapat mencintai kekasihnya.”
Sebagian ulama mengatakan bahwa demikianlah hakekat hati, yaitu jika seseorang selalu berdzikir, maka hatinya selalu hidup, dan barangsiapa yang tidak berdzikir, maka sesungguhnya hatinya telah mati. Sebagian ulama menjelaskan maksud hadits diatas, yaitu memandang dari segi untung dan ruginya.Barangsiapa menyakiti orang yang berdzikir, maka seolah-olah ia menyakiti orang yang hidup yang akan membalas kepada orang yang menyekitinya. Namun barangsiapa menyakiti orang yang tidak berdzikir, ia seolah-olah menyakiti orang yang mati yang tidak akan mampu untuk mambalas.
Para ulama tasawuf mangatakan, “Yang dimaksud dengan 'dianggap hidup' ialah seseorang yang berdzikir sebanyak-banyaknya dengan ikhlas untuk mencari keridhaan Allah. Sesungguhnya ia tidak akan mati, tetapi hanya pindah alam saja. Sebagaimana ditegaskan dalam al Quran tentang orang yang mati syahid :
“.....tetapi mereka hidup di sisi Tuhan mereka, dan diberi rezeki.” (Qs.Ali Imran ayat 169 )
hakin dan Tirmidzi rah.a berkata, “Dzikrullah itu melembutkan hati. Hati yang kosong dari dzikrullah akan menyebabkan bahwa nafsu bergejolak, dan syahwat akan terbakar, sehingga hatinya menjadi keras, dan anggota-anggota badan lainnya turut menjadi keras. Dia tidak akan lagi taat kepada Allah. Jika anggota-anggota badan itu ditarik (untuk diperbaiki), maka pastinya akan patah, seperti kayu yang kering yang tidak dapat bengkok, kecuali apabila dipotong atau dibakar.”

Hadits ke-6
“Dari Abu Musa r.a berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika ada seseorang yang memiliki uang ditempatnya, ia membagikannya (di jalan Allah), dan seorang lagi sibuk dengan berdzikir kepada Allah, maka orang yang berdzikir kepada Allah itu lebih utama.” (Hr.Thabrani)
Penjelasan :
Bersedekah di jalan Allah adalah satu amalan yang sangat mulia, namun jika dibandingkan dengan dzikrullah, ternyata dzikrullah lebih utama.
Alangkah beruntungnya orang kaya menginfakkan hartanya di jalan Allah swt, di samping itu ia juga mendapat taufik untuk berdzikir kepada Allah swt, Dalam sebuah hadits telah diberitakan, Allah swt juga bersedekah kepada hamba-hamba-Nya setiap hari menurut keadaan mereka, dan setiap manusia diberi nikkmat sesuai dengan keutamaannya. Tidak ada anugrah yang lebih besar daripada taufik untuk berdzikir kepada Allah swt Mereka yang sibuk dengan perdagangan, pertanian atau pekerjaan yang lainnya, jika mereka menyisihkan sedikit waktunya untuk berdzikir, sudah pasti mereka akan memperoleh keuntungan yang sangat besar. Menyisihkan ssedikit waktu dari 24 jam sehari untuk berdzikir bukanlah sesuatu yang sulit. Kita telah terbiasa menghabiskan waktu dengan perbuatan sia-sia. Padahal tidaklah sulit menyisihkan sedikit waktu untuk berdzikir kepada Allah swt..
Rasulullah saw bersabda, “ Orang yang paling utama di sisi Allah ialah orang ketika berdzikir, dia selalu memperhatikan peredaran bulan, matahari, bintang dan bayang-bayang untuk menjaga waktu dzikirnya.” Walaupun zaman sekarang ini sudah banyak terdapat berbagai petunjuk waktu, namun kita tidak dapat menggunakannya untuk panduan berdzikir. Jika jam waktunya tidak tepat, maka dapat digunakan taqwim syamsi agar waktu yang sangat berharga itu tidak sia-sia. Dalam sebuah hadits disebutkan, jika seseorang berdzikir kepada Allah di suatu tempat, maka permukaan bumi itu merasa bangga atas bumi-bumi lainnya, sehingga ketujuh lapis dibawahnya.

Hadits ke-7
Dari Mu'adz bin Jabal r.a berkata, Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan menyesal ahli surga, kecuali satu saat yang telah mereka lalui tanpa berdzikir kepada Allah Ta'ala di dalamnya.”(Hr.Thabrani dan Baihaqi)
Penjelasan:
Apabila seseorang memasuki surga, Allah swt akan memperhatikan pahala yang berlipat ganda bagaikan gunung, hasil dari menyebut nama Allah Yang Maha Suci yang ia lakukan ketika di dunia. Maka ia akan berkata, “Alangkah ruginya saya, karena saya banyak membuang waktu di dunia tanpa berdzikir.”
Hafizh Ibnu Hajar rah.a menulis dalam kitabnya Al Munabbihat, bahwa Yahya Bin Mu'adz Razi rah.a sering berkata di dalam munajatnya.
'Wahai Tuhanku, malam tidak akan terasa enak kecuali dengan bermunajat kepada-Mu. Siang tidak terasa enak kecuali dengan menyebut nama-Mu. Akhirat tidak akan terasa enak kecuali dengan ampunan-Mu (terhadap dosa-dosa saya),. Dan surga tidak akan terasa enak kecuali dengan memandang wajah-Mu (Yang Maha Indah).”
Sirri rah.a berkata, “Saya melihat Jurjani rah.a sedang meniup sekam pada tepung gandum kasar. Lalu saya bertanya, “Mengapa tepung itu ditiup?” Ia menjawab, “Setelah membandingkan waktu antara mengunyah roti dengan meniup tepung ini lalu mengunyahnya, ternyata banyak membuang waktu. Dalam selisih waktunya dapat digunakan untuk betdzikir Subhanallah sebanyak 70 kali. Oleh karena itu, sejak 40 tahun yang lalu saya tidak memakan roti. Dan sebagai gantinya, saya meniup tepung gandum kasar ini lalu dimakan.”
Manshur bin mu'tamar rah.a telah menulis bahwa setiap setelah shalat Isya beliau tidak berbicara dengan siapapun. Hal ini telah berlangsung selama 40 tahun. Dikisahkan pula mengenai Rabi' bin Haitsam rah.a bahwa selama 20 tahun beliau menulis semua ucapannya pada sehelai kertas, lalu pada malam harinya beliau akan muhasabah (menghisab diri), berapa banyak ucapan yang penting dan berapa banyak ucapan yang penting dan berapa banyak ucapan yang tidak penting. (Sumber Himpunan Kitab Fadhail Amal Hal 122-129)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar