Senin, 16 April 2012

Dzikrullah, Rahasia Ketenteraman Hidup

Allah Ta'ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S. Al-Ahzab : 41,42). Allah juga berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (dzikrullah). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar Ra'd : 28)
Dzikrullah meliputi segala aspek kehidupan. Dzikir dapat berupa lisan, membaca, tadabbur alam, mengingat mati, dan semua aktivitas yang bertujuan mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah. Beberapa orang telah membuktikan betapa dengan mengingat Allah, hidup menjadi lebih tenteram dan tenang meski tak ada harta melimpah atau kedudukan tinggi di level sosial masyarakat.
Sebut saja namanya Abdurochman, satpam di salah satu perguruan tinggi di Kota Surakarta. Raut muka bersahaja nan ceria tampak dari air mukanya. Meski wajahnya sekilas tampak sangar, tetapi tutur kata yang sopan pasti kan mengakrabkan siapa saja yang bertegur sapa dengannya. Tak ada yang terlalu istimewa selain jenggot lebat yang menghias di janggut. Atau juga sorban yang biasa bertengger di kepala ketika hari Jum'at menjelang. Bapak ini berbagi cerita secara panjang lebar tentang aktivitas dan pengalaman hidupnya.
Yah, nikmatnya berdzikirlah yang membuat Abdurochman begitu tenang menghadapi dunia. Bahkan, saking nikmatnya, kadang ia sampai tidak sadar kalau dzikir setelah shalat yang ia lakukan telah memakan waktu setengah jam atau lebih. “Rasanya tenang, gak mikir apa-apa, semua beban di dunia ini lepas,” terangnya kepada MNH.
Profesinya sebagai seorang satpam ia tekuni sejak 1999. Saat itu, ia mendapat jatah untuk piket jaga malam hari. Sedangkan pada pagi harinya, ia menarik becak di sekitar Jaten, Karanganyar. Meski demikian, kebiasaan untuk selalu shalat di masjid Alhamdulillah selalu ia jalankan kecuali pada kondisi yang sangat tidak memungkinkan. Beberapa orang temannya sering berkata kalau shalatnya lama sekali. “Katanya shalat saya lama. Padahal sepertinya biasa saja,” ceritanya sambil tertawa kecil.
Amalan dzikir dan shalat di masjid telah ia jalankan sejak kecil. Pada masa itu, anak-anak sebayanya cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai ajaran Islam seperti mabuk-mabukan. Karenanya, Abdurochman menjadi lebih sering ke masjid bersama seorang haji yang tinggal di daerah tersebut. Dzikir yang dilakukannya setelah shalat merupakan dzikir-dzikir yang biasa diamalkan Rasulullah seperti istighfar, tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Amalan itu dilakukannya untuk mendapat fadhilah amal (keutamaan amal) seperti ajaran Rasul. Ia bertekad kuat untuk senantiasa menjalankannya. “Shalat itu adalah ibadah paling utama bagi seorang Muslim,” katanya.
Diakui lelaki lulusan SMEA ini, ia mengkhususkan diri berdzikir dengan sungguh-sungguh hanya setelah shalat saja. Menurutnya, dengan dzikir sungguh-sungguh, hati menjadi tenang. “Menurut saya, di dunia ini, bukan harta, uang atau istri yang menjadi tujuan, tetapi ketenangan hati,” ungkap bapak tiga putri ini. Secara fisik, manfaat yang ia dapatkan dari aktivitas dzikirnya adalah menghilangkan capek serta menghilangkan pikiran yang penat. Dunia menjadi lepas dan ketenangan akan menyelimuti diri.
Selain paska shalat, lelaki yang dulu pernah menjadi penjual tahu putih ini juga biasa berdzikir dengan membaca Al-Qur'an. Ada target khusus yang ia tentukan dalam mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an. “Target satu bulan khatam, kalau bisa. Jangan lebih dari 40 hari,” terangnya. Karena mengkhatamkan Al-Qur'an lebih dari 40 hari menurut hadits memang mencirikan orang yang malas. Astaghfirullah hal 'adzim, semoga kita senantiasa menjadi umat-Nya yang taat.
Abdurochman, dilihat sepintas memang “hanyalah” seperti satpam kebanyakan. Tetapi ternyata, dirinya mendapat rahmat untuk bisa melihat makhluk halus di sekitarnya. “Dulu, pertama kali lihat “begitu” waktu masih kecil, saya takut bukan kepalang,” katanya. Dulu, dirinya juga pernah dicoba “dikirimi” jin untuk mengacaukan akidahnya. Setelah berkonsultasi dengan seorang ustadz, lelaki berjanggut lebat ini kemudian belajar ilmu ruqyah untuk mengusir jin dari orang kesurupan. “Saya ingin berdakwah, baik kepada manusia, maupun kalangan jin,” ceritanya lagi.  Alhamdulillah, beberapa jin bersedia masuk Islam.
Bagi kebanyakan kita, mungkin profesi sebagai satpam adalah profesi yang dipandang sebelah mata. Tetapi, sosok satpam yang senantiasa shalat ke masjid, bersungguh-sungguh dalam berdzikir itu telah memberikan fakta nyata tentang ketenangan hidup yang muncul dari keyakinan yang tulus akan rahmat Allah, termasuk dalam hal rezeki.

Dzikir dari Segi Klinis
Di sela kesibukannya sebagai dokter yang praktek di Poliklinik Nur Hidayah, Poliklinik Shofa Gondang Rejo, Karanganyar dan Apotek Akrab Sehat Pasar Mangu, Ngresep, Boyolali, dr. Dian Setiawan menuturkan bahwa dewasa ini, di mana zaman sangatlah maju, perkembangan teknologi yang sangat pesat memengaruhi gaya hidup dan interaksi sosial manusia. Saat ini manusia dihadapkan pada situasi yang serba “uang”. Banyak orang awam beranggapan bahwa uang  adalah segalanya. Dengan uang yang banyak manusia bisa bahagia. Kehidupan yang bergeser ke arah “materialistik/hedonisme”. Padahal, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Hati yang gelisah, tidak tenang, terlalu banyak menyimpan masalah dan tidak dapat mengikhlaskannya/tidak dapat menemukan solusi yang tepat, akan berakibat pada gangguan kesehatan jiwanya.
Dalam dunia kedokteran, terdapat suatu penyakit yang disebut psikosomatik yaitu gejala penyakit yang disebabkan oleh tekanan psikologis/stress yang memberikan dampak pada penyakit jasmani. Penyakit ini berawal dari suatu kegalauan dalam hati seseorang.  Apabila kegalauan ini tidak menemukan solusi yang tepat maka terjadilah depresi. Depresi menimbulkan suatu kegelisahan dalam keseharian. Pada awalnya dapat menimbulkan beberapa masalah fisik seperti leher/punggung terasa kaku, pusing, sulit tidur (insomnia), jantung berdetak kencang, sulit konsentrasi, nyeri perut (gastritis), diare, sering kencing, tekanan darah dan kadar gula darah yang meningkat serta masih banyak lagi. “Tidak semua gejala tersebut akan muncul secara bersama-sama,” terang dr. Dian.
Ditambahkan pula oleh dr. Dian, bahwa pada pemeriksaan awal, biasanya tidak didapatkan suatu kelainan pada pemeriksaan fisik. Akan tetapi apabila didalami lagi maka akan mengarah ke suatu permasalahan batin yang tidak terselesaikan dengan tuntas. Jika hal ini berlangsung dan sampai pada taraf kronis, akan timbul gangguan kesehatan jasmani secara nyata. Kasus psikosomatik ini bukan kasus yang jarang terjadi. “Di zaman yang serba modern ini, haruslah ditopang dengan kesehatan jiwa yang kuat, yaitu menguatkan kadar keimanan kita. Salah satu caranya dengan beribadah secara khusyu', khususnya berdzikir,” terang beliau.
Menurutnya, berdzikir bukan hanya mulut yang mengucapkan Asma Allah semata, akan tetapi hati dan pikiran juga konsentrasi terhadap apa yang sedang diucapkan oleh mulut kita. Dalam kesehariannya, seorang muslim pastilah sering melakukan dzikir. Namun ada juga yang sudah melakukan dzikir tetapi masih tidak merasakan manfaatnya secara maksimal. Padahal, apabila dzikir dilakukan secara sungguh-sungguh (khusyu') manfaatnya sangatlah besar, khususnya bagi kesehatan jiwa. “Kesehatan jiwa yang baik akan memberikan efek yang baik kepada kesehatan jasmani,” imbuhnya.
Kecenderungan manusia seringkali hanya mengingat Allah pada saat-saat sulit dalam hidupnya. Pada saat tenang, justru manusia melupakan Allah. Padahal, berdasarkan Al-Qur'an, mengingat Allah akan memberi banyak manfaat bagi manusia, khususnya ketenangan batin. Dalam Hadits, Rasulullah juga mengajarkan kepada manusia, khususnya kita umat Islam untuk senantiasa mengingat Allah dalam segala keadaan. “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar