Senin, 16 April 2012

Dzikirullah


Dzikrullah artinya mengingat Allah dengan sepenuh hati dengan menyebut asma Allah. Dalam Al-quran atau Hadist Nabi banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk selalu berdzikir kepada Allah. Diantaranya adalah :
“Dan perbanyaklah mengingat Allah supaya kamu mendapat kemenangan” (QS. Al-Jumu’ah :10)
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama Allah), dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya diwaktu pagi dan petang”. (QS. Al-Ahzab :41-42)
“ Orang-orang beriman hatinya tentram karena mengingat Allah, ketahuilah dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”. (QS. Ar-Raad :28)
Demikianlah beberapa ayat yang menyuruh kita senantiasa melaksanakan dzikrullah, mengingat Allah. Dan masih banyak lagi ayat yang lainnya atau hadits-hadits Rasulullah SAW. Diantaranya Rasulullah SAW pernah bersabda : “Barang siapa tidak memperbanyak menyebut asma Allah, maka sesungguhnya ia telah terlepas daripada iman”. Maksud terlepas daripada iman, berarti kurang sempurna imannya, kecuali dengan memperbanyak menyebut Allah. Karena itu nabi bersabda : “Perbaruilah iman kamu dengan banyak-banyak menyebut Allah”.
Dari hadits ini diambil kesimpulan, bahwa kesempurnaan iman seseorang itu hingga mencapai derajat tinggi sebagai manusia sempurna (insan kamil) ialah banyak mengingat Allah, baik di waktu sholat maupun diluarnya.
Dalam hadits lain disebutkan, bahwa beliau bersabda : “Bahwasannya bagi tiap-tiap sesuatu itu ada alat untuk mensucikannya, dan alat untuk mensucikan hati itu ialah dzikrullah ta’ala. Dan tidak ada sesuatu yang dapat melepaskan manusia dari azab kubur selain daripada dzikrullah.
Sabda Rasulullah SAW pula : “banyak-banyaklah olehmu menyebut Allah atas segala hal, maka bahwasannya tiada amal yang lebih dikasihi oleh Allah selain dari dzikrullah. Dan tiada amal yang lebih dapat melepaskan hamba Allah dari segala kejahatan didunia dan akhirat itu selain dari dzikrullah”.
Dari hadits-hadits diatas jelaslah bahwa memperbanyak dzikrullah dapat melepaskan kita dari segala kejahatan didunia dan siksa diakhirat kelak. Sebab memang tidak ada amal yang lebih mendekatkan diri kepada Allah selain dari dzikrullah yang selain bertujuan untuk mengingatNya juga sekaligus untuk memperoleh ridhoNya.
Dengan senantiasa melaksanakan dzikrullah secara rutin, maka akan mengantarkan kita untuk selalu dekat dengan Allah. Dan bertaqarrub kepada Allah akan melahirkan perasaan senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Seakan-akan bagaikan seekor kucing yang sedang menunggu tikus keluar dari lobangnya, tikus pasti akan keluar, tapi kapankah ia akan keluar belum diketahui. Begitulah gambaran orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak amalan yang berupa dzikrullah.
Dengan demikian, mujahadah, khalwat dan dzikir sangat penting untuk terbukanya dinding hissi (perasaan panca indra yang lima) dan terbukanya beberapa rahasia alam dari pekerjaan Allah Ta’ala yang kita lemah mendapatkannya. Dan sekali lagi, ruh manusia sangat lemah untuk mendapatkan pengetahuan mengenai rahasia alam dan af’al tuhan, karena ruh juga merupakan bagian dari alam. Adapun sebab terbukanya hijab itu adalah apabila ruh itu kembali kepada alam asalnya, atau kembali dari pendapatan lahir kepada bathin. Bila sudah demikian keadaannya maka lemahlah seluruh kelakuan hissi (perasaan) dan menjadi kuatlah kelakuan ruh dan menanglah dia dengan kekerasannya.
Selanjutnya untuk menolong kekuatan ruh adalah dengan memperbanyak dzikrullah, karena dzikir menyuburkan ruh, seperti makan menyuburkan tubuh. Dan dengan dzikir, ruh akan bertambah subur dan semakin meningkat sehingga terjadilah syuhud. Dan dari pengetahuan yang diperoleh, ketika itulah ruh menerima segala pemberian yang bersifat Rabbaniyah (bersifat ketuhanan) dan menerima segala ilmu pengetahuan yang bersifat laduniyah (ilmu hati yang datangnya dari Allah). Karena itu terbukalah kasyaf bagi ahli mujahadah, terbukalah pintu ilahiyah. Maka mereka itulah yang mendapatkan segala hakikat wujud. Dan tidak akan didapat oleh orang lain, karena jalan mujahadah (perjuangan) untuk mendapatkannya tidak pernah dilaluinya atau syarat untuk mendapatkannya belum dikerjakan.
Para ulama besar dikalangan shufi pada umumnya adalah orang-orang yang ahli mujahadah, namun mereka tidak akan menceritakan atau membuka rahasia yang diperolehnya dari kasyaf. Mereka tahu bahwa kasyaf merupakan suatu percobaan, sehingga mereka selalu mohon perlindungan dari Allah SWT.
Adapun kasyaf itu tidak akan sempurna, melainkan apabila seseorang tetap istiqomah, kesempurnaan kasyaf seseorang adalah dengan istiqomah. Tetapi adakalanya kasyaf itu bisa juga terjadi karena menahan lapar dan berkhalwat, meskipun tidak dengan istiqomah.
Suatu contoh, misalnya perbuatan tukang sihir seolah-olah mengaburkan pengertian tentang kasyaf dan sihir. Bahkan orang awam selalu terkecoh oleh tukang sihir. Perbandingannya, ibarat sebuah cermin muka apabila ia cembung atau cekung, maka kelihatan bentuk rupa yang tercermin didalamnya tidak merupakan bentuk rupa yang sebenarnya, tidak sama. Lain halnya dengan cermin itu rata, maka bentuk yang didalamnya akan terlihat sempurna seperti bentuk rupa yang asli.
Dzikir adalah pegangan pada jalan tasawwuf, dan seorang pun tidak akan sampai kepada Allah, melainkan dengan memperbanyak dzikir kepada Allah. Dimana dengan jalan memperbanyak dzikrullah ini akan tersingkaplah hijab antara khaliq dengan makhluq, sehingga tercapailah musyahadah. (Sumber "Tashawwuf dan jalan hidup para wali" Karya Ust. Labib MZ dan Drs. Moh Al-'Aziz)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar