Senin, 16 April 2012

Hadits Tentang Dzikir Bag. 6



Hadits ke 12
Dari Abu Darda r.a berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Allah Swt. akan membangkitkan pada hari kiamat beberapa kaum yang wajahnya bercahaya, mereka berada dimimbar-mimbar mutiara. Orang banyak akan cemburu dan merasa iri terhadap mereka, padahal mereka itu buka para Nabi dan bukan pula syuhada. Seseorang berkata, 'Ya Rasulullah, terangkanlah kepada kami tanda-tanda mereka supaya kami dapat mengenali mereka itu!' Rasulullah saw. bersabda, 'Mereka itu ialah orang-orang yang berasal dari keluarga dan kampung yang berlainan yang datang berkumpul disuatu temapat sengaja untuk berdzikir kepada Allah dengan menyebut-Nya” (Hr. Thabrani)
dalam hadits lain dinyatakan bahwa didalam surga terdapat kamar-kamat yang sangat istimewa yang terbuat dari mutiara dan batu zabarjad (zamrud). Pintu-pintunya terbuka disetiap penjuru kamar-kamar itu dan gemerlapan menyilaukan mata seperti bintang-bintang yang bersinar terang. Yang ditempatkan dalam kamar-kamar itu ialah orang-orang yang berkasih sayang satu sama lain karena Allah, berkumpul disuatu tempat karena Allah dan saling menjumpai karena Allah.”
Penjelasan
Mengenai zabarjad dan zamrud, para ahli berbeda pendapat, zabarjad dan zamrud adalah batu pertama yang jenisnya sama, tetapi dikenal dengan dua nama. Sebagian berpendapat bahwa keduanya merupakan dua batu permata yang jenisnya sama tetapi khasiatnya berlainan. Pendek kata zabarjad maupun zamrud adalah batu permata yang bercahaya terang dan sangat berharga.
Sekarang ini terdapat berbagai macam tuduhan yang ditujukan kepada orang-orang yang menghadiri majelis-majelis dzikir. Mereka mencemoohkan orang-orang yang selalu menyebut nama Allah. Padahal ejekan dan cemoohan mereka akan dikembalikan kepada diri mereka sendiri. Sesungguhnya mereka kelak akan mengetahui siapakah yang lebih beruntung, yaitu ketika orang-orang yang dicemoohkan itu akan berada dimimbar-mimbar mutiara dan mahligai permata, sedangkan para pencemooh dan penuduh itu akan memperoleh kerugian.
“Apabila debu jalanan telah lenyap, barulah adan mengetahui apakah anda mengendari kuda atau keledai.
Orang-orang yang berada di majelis-majelis dzikir, mereka dimuliakan dan dihormati oleh Allah sebagaimana telah diterangkan dalam hadits-hadits tentang fadilah dan keuntungan majlis dzikir. Dalam sebuah hadits diberitakan, “Jika seseorang menyebut nama Allah disuatu rumah, maka rumah itu akan bercahaya terang menyilaukan mata para penghuni langit seperti bintang yang bersinar terang menyilaukan mata penduduk bumi.”
dalam hadits  lain disebutkan bahwa sakinah (ketenangan) akan diturunkan kepada majelis dzikir atau para ahli dzikir, mereka dikelilingi oleh para malaikat, diliputi oleh rahmat dan Allah Swt. menyebut mereka di majelis para malaikat yang berada disisi-Nya.
Seorang sahabat yang bernama Abu Razin r.a meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, “Aku kabarkan kepadamu mengenai sumber kekuatan agama yang akan membahagiakan di dunia dan diakhirat, yaitu majelis dzikir.
Maka hendaklah kamu menghadirinya serta peganglah sekuat-kuatnya majelis itu, dan  apabila kamu seorang diri hendaklah kamu berdzikir sebanyak-banyaknya.”
Abu Hurairah r.a berkata, “Jika nama Allah disebutkan disuatu rumah, maka rumah itu bercahaya terang benderang menyilaukan para penghuni langit seperti bintang yang cahayanya menyilaukan para penduduk bumi.”
Rumah yang didalamnya ada dzikrullah merupakan sumber cahaya yang terang benderang seperti bintang. Jika Allah menganugerahkan mata batin kepada seseorang, maka sewaktu didunia pun orang itu dapat merasakan cahaya itu. Beberapa hamba  Allah pernah melihat dengan mata kasarnya, nur dan cahaya pada wajah-wajah para pecinta Allah dan ditempat-tempat tinggalnya.
Fudhail bin Iyadh rah.a seorang wali yang terkenal, beliau berkata, “Para penghuni langit akan melihat cayaha rumah yang didalamnya ada dzikrullah seperti lampu yang terang benderang.”
Syeikh Abdul Aziz Dabbagh rah.a juga seorang yang saleh termasyhur dizaman yang tidak terlalu jauh dari zaman sekarang. Beliau adalah seorang ummi (tidak pandai baca tulis), namun beliau dapat membedakan antara ayat suci Al-Quran, hadits qudsi, hadits Nabi dan hadits palsu. Beliau berkata, “Apabila ada seseorang sedang berbicara, maka dari nur perkataannya itu dapat diketahui, berasal dari siapakah perkataan itu, apakah dari kalamullah yang maha suci atau dari hadits Nabi SAW., karena nur kedua perkataan itu berbeda dengan nur perkataan-perkataan lainnya.”
Syeikh Maulana Zhafar Ahmad mengutip dari kita Tazkiratul Khalil, sebuah kitab yang menceritakan riwayat hidup Syeikh Khalil Ahmad rah.a, seorang ahlullah dan ulama hadits terkemuka pada awal abad kedua puluh ini. Bahwa ketika Syeikh Khalil Ahmad datang ke Makkah untuk mengerjakan tawaf qudum, aku sedang duduk disamping Syeikh Muhibbuddin rah.a (beliau adalah khalifah Syeikh Al Haj Imdadullah Muhajir rah.a dan seorang ahli kasyaf  yang masyhur). Pada saat itu Syeikh Muhibudin sedang sibuk membaca shalawat, tiba-tiba beliau berpaling kepadaku lalu berkata, “Siapakah yang telah datang ke Masjidil Haram sehingga karenanya Masjidil Haram telah dipenuhi oleh nur?”
Ketika itu aku terdiam. Setelah Syeikh Khalil Ahmad rah.a selesai mengerjakan tawafnya lalu beliau pulang melalui tempat duduk syeikh Muhibuddin rah.a maka syeikh ini bangun seraya berkata sambil tersenyum-senyum, “Aku baru mengetahui, siapakah yang dengan kedatangannya Masjidil Haram telah dipenuhi oleh cahaya.”
Fadhilah dan keuntungan dzikir telah diterangkan dalam berbagai hadits dengan berbagai uslub. Ada sebuah hadits yang menerangkan. Ribath yang paling afdhal adalah shalat dan majelis dzikir. Ribath yaitu menjaga sebuah negara islam dari serangan orang-orang kafir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar