Senin, 16 April 2012

Ikhlas



Manusia diciptakan oleh Allah SWT. Hanyalah untuk beribadah kepadaNya menurut syariat atau aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam. Begitu pula dalam ibadah kepada Allah haruslah disesuaikah dengan garis-garis yang telah ditetapkan syariat serta hanyalah diniatkan semata-semata karena Allah dan mengharapkan ridhoNya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Namun sayang sekali, kadang-kadang ada sebagian diantara manusia itu ada yang  menyimpang jauh dari tujuan diciptakannya semula, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Selama hidupnya tidak dipergunakan ibadah, tapi hanyalah diisi dengan perbuatan-perbuatan maksiat, selalu melanggar larangan-larangan Allah dan lebih tragis lagi, ada yang mengkufuri atau mengingkari adanya Allah dan juga menetang syariatNya secara terang-terangan.
Selain itu, masih ada lagi yang lebih tragis lagi nasibnya, yaitu orang yang lahirnya sudah melaksanakan ibadah dan juga sudah meyakini kebenaran ibadahnya, namun salah dalam pelaksanaannya. Ibadahnya melenceng dari tujuan dan tidak sesuai dengan tuntunan Allah. Dalam hal ini adalah niat ibadahnya  tidak benar, yakni tidak sesuai dengan tuntunan Allah. Niat ibadahnya tidak ditujukan semata-mata karena Allah, namun ditujukan dan diniatkan kepada yang lainnya. Ibadahnya tidak semata-mata ditujukan kepada Allah dan mengharapkan ridhoNya, tapi demi mengharapkan pujian, sanjungan ataupun ingin dilihat oleh orang lain.
Dalam pandangan shufi, beribadah seperti itu tidak akan berhasil guna, bahkan sia-sia saja. Sebab tidak dilakukan secara ikhlas karena Allah. Ibadah seperti itu tidak akan diterima oleh Allah. Ibadah yang diterima oleh Allah adalah ibadah yang dilakukan secara ikhlas dan benar. Ikhlas artinya semata-mata ditujukan kepada Allah dan benar artinya dilakukan sesuai dengan syariatNya.
Beribadah secara ikhlas menurut definisi para ulama shufi adalah tidak ingin seseorang amalnya yang baik dilihat orang lain, apalagi diperlihatkan, tidak jauhnya seperti dia melakukan kejahatan yang tidak ingin diketahui masyarakat. Sebagian ulama shufi yang lain menekankan pada dasar ikhlas yaitu tidak ingin dipuji oleh orang lain.
Bagi pandangan kaum shufi, ibadah dan ikhlas tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lainnya, selalu saling kait mengkait antara yang satu dengan lainnya. Dalam hal ini, bila diibaratkan bagaikan tubuh, maka ikhlas adalah rohnya. Ibadah yang tidak dilakukan dengan ikhlas bagaikan tubuh tanpa roh alias bangkai. Jika bangkai itu dibiarkan lama kelamaan akan membawa penyakit yang amat berbahaya. Hal ini disebabkan keberadaan ikhlas adalah sebagai sumber motivasi  ibadah seseorang, sekaligus jantung dan nyawanya. Tanpa rasa ikhlas ibadah seseorang tidak akan berlangsung lama. Tergantung musim dan lingkungannya. Jika lingkungannya mendorong untuk beribadah, maka semangatnya timbul. Sebaliknya bila sepi dari rangsangan atau dorongan tertentu, lemah dan malas. Lain halnya dengan ibadah yang dilakukan dengan ikhlas, dia akan terus beribadah tanpa menunggu dorongan atau rangsangan dari lingkungannya. Ada orang yang melihat atau tidak, dicela atau dipuji, sendirian ataupun bersama banyak orang, tetap saja melakukan ibadah sesuai dengan dorongan hati nuraninya yang semata-mata mengharapkan pujian dan sanjungan dari Allah SWT.
Bila dalam diri kita masih terdapat perasaan, rangsangan dan dorongan yang ditimbulkan dari lingkungan sekitarnya dalam melaksanakan ibadah, misalnya ingin dilihat orang lain, dipuji dan disanjung-sanjung dan lain sebagainya, berarti secara tidak sadar, diri kita sudah terjebak dalam lumpur riya’. Lebih jelasnya bisa dilihat dari ciri-ciri seseorang yang terjangkit penyakit riya’. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :
Empat macam tanda bukti orang yang riya’, yaitu :
  1. Malas ketika sedang sendirian.
  2. Sangat tangkas/giat dihadapan orang banyak.
  3. Amal ibadahnya meningkat ketika dipuji.
  4. Menurun ketika perilaku/ibadahnya dicela.
Empat macam ciri inilah yang dapat dipergunakan untuk mengoreksi diri dalam setiap melaksanakan ibadah, dengan tujuan agar terhindar dari penyakit riya’. Dan dengan bekal ilmu tentang ciri-ciri riya’ ini, maka seseorang dapat mengoreksi dirinya barangkali sudah kerasukan penyakit yang sangat berbahaya ini. Apabila seseorang senantiasa melakukan koreksi terhadap gejala-gejala riya’ ini, akan senantiasa terhindar dari kehancuran amal ibadahnya, sehingga semua amal ibadahnya akan diterima oleh Allah SWT. Mengingat bila kita terjebak kedalam penyakit riya’ amal ibadah yang telah dilakukan tidak membawa manfaat sama sekali, karena ditolak oleh Allah. Lebih celaka lagi akan dimasukkan oleh Allah kedalam neraka jahannam.
Gambaran yang lebih jelas mengenai sifat riya’ yang menggerogoti amal sholeh dan membawa kesia-siaan dan kehancuran. Sifat riya’ pada akhirnya hanyalah membawa penyesalan bagi pelakunya. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadistnya yang panjang yang artinya sebagai berikut : “Ketika tiba saat hari kiamat, Allah memutuskan semua urusan makhluqnya, semuanya tunduk kepadaNya, yang dipanggil adalah pembaca Al-Quran, lalu ditanyakan kepadanya : “Kamu telah mempelajari apa yang telah diwahyukan kepada utusanKu?” Jawabnya : “Ya Tuhan”,  “lalu apa yang kamu amalkan didalamnya?” “aku membacanya dimalam ataupun disiang hari”. Kemudian Allah dan malaikat-Nya menyanggahnya : “kamu telah berbohong, karena semua itu kamu lakukan hanya karena dipuji orang, dan itu sudah terlaksana di dunia”. Yang kedua ialah para hartawan, lalu ditanyakan kepadanya : “Harta yang Aku berikan kepadamu, kau buat untuk apa saja?” Jawabnya : “Kubelanjakan demi menyambung sanak famili dan disedekahkan”. Lalu disanggah oleh Allah dan malaikatNya : “Kamu bohong karena semua itu kamu lakukan agar kamu disebut dermawan, dan itu sudah terlaksana”. Yang ketiga adalah orang mati sabil (syahid), berperang dijalan Allah, lalu ditanyakan kepadanya : “Kenapa kamu terbunuh?” jawabnya : “Berperang fi sabilillah”. Lalu disanggah oleh Allah dan para MalaikatNya : “Kamu bohong, karena tujuanmu supaya kamu disebut pahlawan yang gagah berani, dan hal semacam itu sudah terlaksana di dunia”.
Kata Abu Hurairah : “Lalu Rasulullah SAW. Menepuk lututku seraya bersabda : “Hai Abu Hurairah, ketiga macam manusia itulah yang paling awal disiksa dineraka”. Dan ketika Muawiyah mendengarnya,  langsung menangis dan berkata : “Sungguh benar Allah dan RasulNya, dia sitir Al-quran Surat Hud 15-16 :
“Barang siapa (tujuan amalnya) hanya menghendaki kesenangan dan keindahan dunia, pasti kami sempurnakan balasannya didunia, sedikitpun tidak dikurangi. Itulah orang-orang yang tidak ada balasannya diakhirat, kecuali neraka, lenyaplah semua amal usahanya dan sia-sialah pekerjaannya”.
Begitulah akhirnya perjalanan amal yang tidak disertai niat yang ikhlas. Amal perbuatannya tidak mendapatkan pahala sama sekali, karena ditolak oleh Allah. Pada akhirnya sangat memprihatinkan sekali karena harus dimasukkan kedalam neraka jahannam, Na’udzu billah.(Sumber "Tashawwuf dan jalan hidup para wali"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar