Senin, 16 April 2012

Hadits Tentang Dzikir Bag. 4


Hadits Ke 10
Dari Anas r.a, dari Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum untuk berdzikir kepada Allah dengan tujuan hanya untuk mendapatkan keridhaan-Nya, kecuali malaikat berseru dari langit, 'Bangunlah dalam keadaan dosa-dosamu telah diampuni dan kejahatan-kejahatanmu telah diganti dengan kebaikan-kebaikan.” (Hr. Ahmad, Al-Bazzar, Abu Ya'la dan Thabrani)
dalam riwayat thabrani dari Sahl bin Hanzhaliyah dan Baihaqi dari Abdullah bin Mughaffal ada tambahan : “Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam suatu majelis, lalu mereka berpisah dari majelis itu tanpa berdzikir kepada Allah, kecuali majelis itu akan menjadi kerugian bagi mereka pada hari kiamat.”
Penjelasan :
Mereke merugi karena majelis itu telah sia-sia dan tidak mendatangkan keberkahan apa-apa bagi mereka. Bahkan kemungkinan besar majelis itu dapat menimbulkan bencana bagi mereka.
Dalam sebuah hadits disebutkan, “Jika suatu majelis para pesertanya tidak berdzikir kepada Allah Swt. dan tidak pula bershalawat kepada Nabi saw. mereka bagaikan bangkit setelah mengerumuni keledai mati.
Didalam sebuah hadits diterangkan : “Maha suci Allah dan dengan segala pujian-Nya, Maha suci engkau ya Allah dengan segala puji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan engkau dan aku mohon ampun dan bertaubat kepada engkau.”
Bacaan diatas merupakan kifarah (penghapus kesalahan yang dilakukan dalam) majelis, hendaknya dibaca pada setiap menutup majelis.
Didalam hadits lain diterangkan, “Jika suatu majelis peserta-pesertanya tidak berdzikir kepada Allah dan tidak pula bershalawat kepada Nabi saw. maka peserta majelis itu akan menyesal dan mengalami kerugian pada hari kiamat. Kemudian terserah kepada Allah, apakah mengampuni dosa-dosa mereka dengan limpahan karunia-Nya atau menimpakan azab-Nya kepada mereka.
Hadits lain menyebutkan, “Hendaklah menunaikan hak-hak majelis, yaitu berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya, membimbing orang yang berada didalam perjalanan (jika mereka memerlukan bimbingan) dan apabila mendapatkan pemandangan yang tidak baik, alihkanlah pandanganmu atau pandanglah kebawah agar kamu tidak memandangnya lagi.”
Sayidina Ali r.a berkata, “Barangsiapa menghendaki supaya amalan-amalannya ditimbang dengan timbangan yang berat (timbangan pahalanya lebih banyak), maka hendaknya ia membaca ayat berikut ini pada setiap menutup suatu majelis : “Maha suci tuhan engkau, Tuhan yang maha perkasa dari sifat-sifat mereka ucapkan. Sejahtera bahagialah para Rasul dan segala puji bagi Allah tuhan semesta alam (dari Hasan dan Hamasha).”(Qs. Ash Shaffaat ayat 180-182).
Hadits diatas juga menyebutkan bahwa kejahatan akan diganti dengan kebaikan. Hal ini diperkuat oleh ayat  Al-Quran surat Al-Furqan ayat 70, dalam ayat itu Allah menyebutkan beberapa sifat orang-orang mukmin.”Maka Allah mengganti kejahatan mereka dengan kebaikan (menghapus dosa kejahatannya). Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.
Mengenai maksud ayat tersebut, beberapa ulama tafsir telah menafsirkan dengan berbagai pendapat :
Bahwa kejahatan akan diampuni dan kebaikan akan kekal. Diampuninya kejahatan-kejahatan itu bisa juga dikatakan sebagai suatu pergantian.
Bahwa Allah Swt. melimpahkan kepada mereka taufik untuk berbuat baik dan menjauhi kejahatan. Sebagaimana kata pepatah, “Mencari panas tetapi mencapai dingin.”
perangai mereka dialihkan (diubah) dari berbuat kejahatan menjadi berbuat kebajikan. Perangai manusia adalah tabi'at yang tidak akan berubah, atau seperti ungkapan “Biar mati anak tapi jangan mati adat.” hal ini juga disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw. “Jika diberitakan kepadamu bahwa sebuah gunung telah berubah tempatnya, maka bolehlah kamu membenarkannya, tetapi jika kamu mendengar bahwa perangai manusia itu berubah, janganlah kamu mempercayainya. (Hadits ini seakan-akan menunjukkan bahwa letak gunung bisa berubah, tetapi perangai manusia mustahil berubah)
disini kita seolah-olah menemukan satu keraguan. Yakni, jika demikian apakah yang dimaksud dengan kelembutan perangai manusia yang diusahakan oleh para ulama tasawuf dan ahli-ahli thariqat ? Jawabnya adalah, perangai manusia itu tidak dapat berubah,  tetapi yang berubah adalah tujuannya atau sasarannya kepada sesuatu. Misalnya, seseorang yang berperangai kasar, maka sifat kasarnya tidak dapat dihilangkan. Tetapi sasarannya yang bisa diubah; kalau dahulu kekasarannya melahirkan kezhaliman, kekejaman, takabur dan sebagainya, maka kini digunakan untuk mengatasi orang-orang yang mendurhakai Allah dan melewati batas agar berjalan lurus sesuai syariat agama.
Sayidina Umar bin Khattab r.a yang semula memusuhi dan menentang umat Islam dengan keras dan terang-terangan, tetapi setelah beriman dan dengan bimbingan Rasulullah saw. beliau menentang dengan keras orang-orang kadir dan pendurhaka.
Keterangan-keterangan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa Allah swt. mengubah perangai seseorang dari melakukan maksiat menjadi melakukan kebaikan.
Bahwa Allah Swt melimpahkan taufik kepada mereka untuk bertaubat, karena maksiat dan kejahatan yang lampau menyebabkan mereka sadar dan menyesal lalu bertaubat. Oleh karena taubat itu adalah suatu ibadah, maka menurut taufiknya, setiap kejahatan yang telah dilakukan akan diganti dengan kebajikan.
Bahwa jika sekiranya suatu amal diterima oleh Allah Swt. dari seorang hamba-Nya, lalu dengan limpah karunia-Nya dianugerahkan kebajikan kepadanya sebanyak kejahatannya itu, hal itu memang tidaklah mustahil bagi-Nya karena Dia pemilik segala sesuatu. Dia pemerintah, Dia Maha Kuasa, rahmat-Nya adalah meliputi segala-galanya. Siapapun tidak dapat menutup pintu ampunan-Nya, siapa pun tidak dapat menahannya dari memberi sesuatu yang hendak Dia berikan, itu adalah  hak Allah sendiri. Dengan itu Allah akan menyatakan kekuasaan dan keampunan-Nya pada hari hisab.
Keadaan padang Mahsyar dan perhitungan amal manusia telah diterangkan dengan berbagai cara. Didalam kitab “Bahjatunnufuus”, disebutkan bahwa perhitungan amal manusia akan dilakukan dengan beberapa cara :
dengan cara sembunyi-sembunyi, yakni amalan sebagian manusia akan diperhitungan secara tersembunyi dibalik tirai rahmat, dosa-dosanya akan disembunyikan sehingga ia mengira dosa-dosanya akan membinasakannya. Kemudian Allah berfirman kepadanya : “Sesungguhnya Aku telah menyembunyikan kesalahan-kesalahanmu di dunia dan dihari ini juga Aku sembunyikan kesalahan-kesalahanmu yang banyak ini dan Aku memaafkanmu”
Apabila orang itu keluar dari Mahkamah Ilahi maka orang banyak yang berada disana akan berkata : “Alangkah berbahagianya hamba ini, ia disucikan dari segala dosa karena dosanya telah dimaafkan oleh Tuhan sedangkan mereka tidak mengetahuinya.”
Dengan cara terang-terangan, yakni semua dosa baik besar maupun kecil akan dihadapkan kepada mereka yang melakukannya. Kemudian Allah Swt. berfirman, dosa-dosa kecilmu akan diganti dengan kebajikan. Lalu orang itu berkata, masih banyak dosaku yang tidak disebutkan disini.
Demikianlah manusia dihadapkan kepada Allah dan bagaimana amal-amalnya diperhitungkan, semuanya diterangkan satu persatu dalam kitab tersebut.
Diceritakan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw. bersabda :
“Aku mengetahui orang yang terakhir dikeluarkan dari neraka jahannam, kemudian dibawa masuk kedalam surga, yaitu manusia yang dihadapkan kepada Allah, lalu Allah berfirman kepada para malaikat, 'sekarang janganlah menyebut dosa yang besar-besar, dosa-dosa kecil saja yang dihadapkan kepadanya.' kemudian ia diminta dipertanggung jawaban atas dosa-dosanya, sekian dosa telah kamu lakukan pada sekian lama yang tidak dapat diingkari, maka semuanya diakui. Lalu Allah Rabbul 'alamin berfirman, 'Dosa-dosa hamba ini heendaklah diganti dengan kebajikan.” maka ia pun akan segera berkata, “Masih banyak lagi dosaku yang belum disebutkan.” Nabi saw. menceritakan kisah ini sambil tersenyum.
Kisah tersebut menunjukkan, bahwa dikeluarkan paling akhir dari neraka jahannam merupakan siksaan yang berat. Lalu siapakah yang beruntung, siapakah yang dosa-dosanya itu diganti dengan kebajikan, hal ini bergantung kepada limpahan karunia Allah. Oleh karena itu, seorang manusia harus selalu mengharapkan limpahan karunia Allah agar ia dapat menunjukkan sifat kehambaannya. Sikap acuh tak acuh terhadap rahmat Allah merupakan dosa besar yang tidak terampuni.
Walaupun dosa-dosa dapat digantikan dengan kebajikan, hal ini hanya dapat diperoleh dari keikhlasannya dalam majelis-majelis dzikir sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut diatas.
Ada beberapa riwayat yang berbeda mengenai orang yang terakhir dikeluarkan dari neraka Jahannam, tetapi tidak ada sesuatu yang perlu diperdebatkan. Apabila yang dikeluarkan terakhir dari neraka Jahannam itu satu rombongan yang besar jumlahnya, maka seseorang diantara mereka yang dikeluarkan lebih dulu tetap saja disebut sebagai yang terakhir keluar dari neraka jahannam, demikian pula yang menyusul kemudian. Atau boleh jadi maksud yang terakhir keluar disini adalah dalam satu jamaah.
Hal khusus yang menonjol dari hadits diatas adalah mengenai ikhlas. Didalam beberapa hadits yang lain diterangkan, keikhlasan merupakan syarat pokok untuk mencapai keridhaan Allah. Hadits-Hadits itu akan dikemukakan nanti pada bagian berikut risalah ini.
Sesungguhnya ikhlas adalah penahan dari berbuat dosa. Amal-amal manusia akan dinilai menurut keikhlasannya. Para ulama tafsir mengemukakan, “yang dimaksud dengan ikhlas ialah, kesesuaian antara ucapan dengan amal perbuatan.” Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa mencegah manusia dari melakukan maksiat adalah keikhlasan yang sebenarnya.
Dalam kitab Bahjatunnufus diceritakan ada seorang raja yang zhalim. Suatu ketika akan dikirim kepada sang raja minuman keras yang diangkut dengan sebuah kapal. Tiba-tiba muncullah seorang hamba Allah dan segera memecahkan botol-botol minuman keras didalam kapal itu, tetapi satu botol dibiarkannya, tidak ikut dipecahkan. Dikapal itu tak seorang pun berani mencegahnya. Para awak kapal yang menyaksikan peristiwa itu amat terkejut, mengingat kekejaman dan kezhaliman sang raja. “Sungguh berani orang itu berbuat demikian,” kata mereka. Peristiwa ini kemudian diceritakan kepada sang raja. Mula-mula raja terkejut mendengar peristiwa yang ganjil ini. Raja berkata, “Mengapa kamu berani berbuat demikian ?” orang itu menjawab, “Aku berbuat demikian karena desakan hatiku. Jika aku dianggap bersalah, hukumlah aku sesuka raja.” lalu ditanyakan kembali kepadanya, “Baiklah kalau begitu, tetapi mengapa engkau tinggalkan satu botol ini?” ia menjawab, “Dahulu aku memecahkan botol-botol itu karena desakan kegairahanku terhadap agama Islam, kemudian ketika hanya tinggal satu, hatiku menjadi gembira dan bangga karena aku telah berhasil membasmi perbuatan sekeji ini. Apabila aku memecahkan yang satu botol lagi, maka aku khawatir mungkin karena desakan nafsuku sendiri, oleh karena itu aku tinggalkan.”
lalu raja pun berkata, “Biarkan dia, karena ia dipengaruhi oleh kekuatan yang luar biasa.”
dikisahkan dalam kitab ihyaaul ulum bahwa ada seorang abid dikalangan Bani Israil yang senantiasa sibuk dengan beribadah. Suatu ketika datanglah serombongan manusia kepadanya sambil mengatakan, “Disini terdapat satu kaum yang menyembah sebatang pohon.”
Setelah mendengar berita itu, si abid  marah sekali, lalu mengambil sebilah kapak hendak menebang pohon yang dijadikan sesembahan itu. Didalam perjalanan, muncullah syetan dalam wujud  orang tua, lalu bertanya  kepada si abid, “Mau kemana engkau?”
“Aku hendak menebang pohon yang dijadikan tuhan dan disembah oleh manusia,” Jawab si abid.
“Mengapa engkau lakukan itu, engkau tinggalkan ibadahmu untuk suatu perbuatan yang sia-sia, bukankah lebih baik bila engkau meneruskan ibadahmu?” kata si syetan itu.
“Ini Juga ibadah,” Jawab si  abid.
Lalu syetan berkata, “Tidak, aku tidak akan membiarkan engkau menebang pohon itu.”
maka terjadilah perkelahian antara si abid dengan syetan itu. Si abid berhasil mengalahkan syetan, menjatuhkannya, lalu menduduki dadanya, Syetan menyadari kekalahan dan kelemahannya, lalu membujuk si abid dengan berkata, “Dengarkanlah kata-kataku!” Si abid pun melepaskannya. Kemudian syetan berkata kepadanya, “Bukankah Allah tidak mewajibkan kepadamu menebang pohon itu? Pohon itu tidak mengganggu ibadahmu dan engkau pun tidak menyembahnya. Allah telah mengutus para Nabi, jika Dia menghendaki, pasti Dia memerintahkan para Nabi menebang pohon itu.”
Si abid menjawab, “Aku harus menebang pohon itu. Sesukamulah, apa yang akan engkau lakukan kepadaku.”
kemudian perkelahian terulang lagi. Si abid pun kembali memenangkan perkelahian itu dan menduduki dada syetan. Syetan pun membujuknya kembali dengan berkata, “Dengarkanlah! Aku akan menyampaikan kata-kataku yang terakhir yang akan menguntungkanmu.”
“Silakan,” Kata si abid.
Syetan berkata kepadanya, “Bukankah engkau orang miskin dan telah menjadi beban masyarakat. Jika engkau membiarkan pohon itu, niscaya aku akan memberikan kepadamu tiga dinar uang mas setiap hari. Engkau akan mendapatkannya dari bawah bantalmu setiap pagi. Dengan demikian segala keperluanmu dapat terpenuhi, engkau dapat menunaikan hak-hak keluargamu, dapat pula menolong fakir miskin dan engkau dapat mempergunakannya untuk mengerjakan amal baik yang menguntungkan. Apabila engkau tetap  akan menebang pohon itu, engkau hanya mendapatkan satu pahala, kemudian para penyembah pohon itu tentunya akan mencari pohon yang lain pula.”
Bujukan syetan itu telah berhasil menawan hati dan pikiran si abid yang akhirnya menerima tawarannya. Maka sesuai dengan perjanjian,  si abid mendapatkan uang sebanyak tiga dinar pada dua pagi berturut-turut. Akan tetapi pada hari berikutnya, uang itu tidak didapatinya lagi. Si abid sangat kesal, lalu mengambil kapak dan berjalan menuju pohon tadi. Orang tua ( jelmaan syetan) itu pun kembali menghalangi si abid.
Syetan berkata, “Kau hendak kemana?”
“Aku hendak pergi menebang pohon itu.” jawab si abid
Syetan berkata, “Kini engkau tidak berdaya menebang pohon itu.”
keduanya berkelahi lagi, tetapi kali ini syetan berhasil mengalahkan si abid. Menjatuhkan dan menduduki dadanya. Si abid terkejut lalu bertanya, “Bagaimana kau bisa mengalahkan aku sedangkan dahulu aku selalu mengalahkanmu?”
Syetan menjawab, “Dahulu engkau berhasil mengalahkan aku karena engkau berjuang semata-mata karena Allah, tetapi sekarang aku dapat mengalahkanmu karena engkau berjuang demi uang.”
Sesungguhnya perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah mempunyai kekuatan yang luar biasa. (Sumber Himpunan Kitab Fadhail Amal Hal 133-144)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar